Senin, 26 Juli 2010 / Label: ,

Wayang Durongpo: Dewi SUTET-Wati Nyosor Raden Lesmana

Wayang Durangpo

[ Minggu, 25 Juli 2010 ]
Dewi SUTET-Wati Nyosor Raden Lesmana
Nduk satu dua kabupaten di Jawa Timur ada perempuan manjat menara listrik tegangan ekstratinggi. Di Jawa Tengah, di satu dua kabupaten, sama. Di sana gitu juga. Ada perempuan...duduuuuuk lama-lama di atas rangka baja tinggi. Matanya kosong. Kayaknya mau bunuh diri. Dan perempuannya sama. Orangnya itu-itu juga. Pindah-pindah. Cuma seorang. Wereng juga melanda sawah-sawah padi dua provinsi itu, tapi nggak cuma sewereng.

Itu yang membikin ponokawan Bagong bingung. Kenapa hama padi yang mengancam dua musim panen ke depan itu jumlahnya banyak, jutaan? Tapi kok perempuan yang pindah-pindah menara, yang entah putus ekonomi entah putus cinta itu, jumlahnya cuma satu. Yang berbeda-beda cuma pengakuan tentang jati dirinya.

Kepada Petruk, perempuan berambut kusut-masai itu bilang dia dulu kerja di Kebun Binatang Surabaya. Kalau ndak salah tugasnya di kandang macan. Suatu hari anaknya yang masih taman kanak-kanak oleh gurunya disuruh ngitung, berapa kerugian akibat macet saban hari gara-gara jalan dikosongkan untuk perjalanan presiden PP Cikeas-Istana.

Anak ini ndak bisa njawab, malah nyanyi-nyanyi Pelangi-Pelangi ciptaan almarhum A.T. Machmud. Ibunya berpikir, kalau dikasih makan daging, pasti anak ini selain pandai bernyanyi juga pintar berhitung. Masa tiap hari makan nasi mbarek garam. Diambillah jatah daging para macan di kebun binatang. Itung-itung mengikuti gerakan yang dicanangkan Pak SBY menyambut Hari Anak Nasional. Yaitu gerakan Indonesia Sayang Anak. Nah, demi anak, pas daging jatah macan dibungkus -sebenarnya macannya nggak tahu- tapi petugas keamanan ngelirik. Jadilah perempuan ini sekarang suka manjat menara tegangan tinggi dan jadi tontonan.

''Kamu percaya cerita perempuan itu, Truk?'' tanya Gareng.

''Jan-jane ya ndak percoyo, Kang Gareng. Tapi kan sekarang yang aneh-aneh bisa saja malah jadi senyata-nyatanya nyata. Wong sekarang ada kok, itu...di Surabaya....orang tua nyerah, angkat tangan ngasih makan bayinya. Eh, bayi nggak diserahkan ke panti asuhan, malah diserahkan ke kantor polisi. Padahal semboyan Pak Polisi itu mau di Surabaya, di Kulonprogo, di Ambarawa, dan di mana-mana kan sama, polisi kerjanya cuma melindungi dan melayani... ndak pakai menggendong dan menyusui...''

''Iya, Truk, polwan saja semboyannya juga sama, cuma melindungi dan melayani, ndak ditambahi mengasuh dan menyusui...''

''Ke aku kok lain lagi ya ceritane,'' kata Bagong kepada kakak-kakaknya. Bungsu ponokawan itu menunjuk ke televisi. Ada siaran Mas Bambang Sulistomo, salah satu pemrakarsa gerakan penyelesaian lumpur Lapindo. Putra Bung Tomo ini bilang, kalau ada ketegasan penguasa seperti Obama, asyik Rek. Wong lumpur minyak di Teluk Mexico bisa diselesaikan Amerika dalam waktu cuma 3 bulan, masa lumpur Lapindo wis empat tahun ndak beres-beres.

''O, Gong, maksudmu wong wedok di atas menara itu korban lumpur Lapindo?'' Petruk dan Gareng kompak.

''Bukan. Maksudku nuding televisi...yuk kita pindah di depan televisi situ, ada tiker, aku tak ndongeng siapa perempuan tower itu menurut pengakuannya kemarin ke aku pribadi...''

Untuk pertama kalinya, Bagong mendongeng dengan cukup runtut.

***

Perempuan di atas mercu itu dulunya ndak kurang suatu apa. Rumah di mana-mana. Kebo, sapi, ayam, kambing...dia punya sak arat-arat. Suami? Hehe... dia malah punya dua. Namanya Pak Karadusana dan Pak Trimurda. Makanya kalau lihat perempuan-perempuan lain, perempuan itu tidak memperhatikan harta bendanya. Dia sudah kaya raya kok. Mau perempuan lain itu pakai tas orisinal Prada, Louis Vuitton, Gucci...ndak masalah.

Perempuan itu tertarik ke salah seorang wanita yang sama sekali sandangannya nggak pakai merk terkenal. Kenapa? Karena di atas kepala wanita yang dilihatnya itu seperti selalu ada sinar. Cahaya itu senantiasa mengikuti kepalanya. Dan setiap tanah yang dipijak oleh wanita bercahaya itu, tiba-tiba...byar... jadi subur. Ternak pun jadi berhidupan sehat-sehat. Harga-harga jadi terjangkau. Cabe merah tak sampai puluhan ribu per kilo. Harga daging juga terjangkau. Bukan hanya macan kebun binatang yang bisa mbadog daging.

Namanya Bu Sinta.

Pantas, pikir perempuan tower itu dulunya. Berarti wanita yang di atas kepalanya ada naungan cahaya itu pastilah adalah titisan Dewi Sri alias Dewi Widowati. Dan lelaki tampan di samping wanita itu pastilah Pak Ramawijaya, titisan Dewa Wisnu.

Kecemburuan mulai muncul di hati perempuan tower itu dulunya. Edan. Dilihatnya, Pak Rama kalau pergi ke mana-mana meninggalkan istrinya, pulangnya pasti karena butuh. Butuh bertemu Bu Sinta, butuh berdua dengan Bu Sinta. Sedangkan kedua suaminya, Pak Karadusana dan Pak Trimurda? Hah, mereka pulang ke rumah bukan karena butuh istri tapi karena takut istri. Minimal karena kewajiban! Bukan karena kebutuhan!

''Oooo... Bosan aku! Bosan! Bosan! Bosan! Bahtera macam apa rumah tanggaku ini!!!!'' jerit hati perempuan itu.

Maka, ketika dilihatnya Pak Rama meninggalkan Bu Sinta untuk pergi berburu di Hutan Dandaka, perempuan ini mulai pedekate pada Rama. Tapi Pak Rama dengan halus menolaknya.

Kata Rama, ''Wahai perempuan cantik, terima kasih telah Diajeng nyatakan perasaan Diajeng. Tapi saya sudah cukup beristrikan Sinta. Wanita ini membawa rezeki, karena dia tidak pernah bersungut-sungut mau pukul berapa pun saya pulang. Dan saya selalu butuh pulang. Nenek-moyang saya bilang, suami-istri itu satu karma. Ketunggalan doa suami-istri, itulah rezeki rumah tangga, untuk kita bagi pada sesama...Kalau Diajeng ingin punya suami, lamarlah adik saya. Namanya Lesmana. Dia lelaki yang baik...''

Dengan sedikit tersinggung, pergi jugalah perempuan ini kepada Lesmana.

***

Siaran Mas Bambang Sulistomo di Metro TV perkoro lumpur Lapindo masih tertayang. Bolak-balik arek Suroboyo ini menyatakan optimismenya. Lumpur Lapindo bisa dirampungkan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Teluk Mexico sumber semburan lumpurnya di bawah laut saja bisa cepat tuntas. Lumpur Lapindo kan di daratan. Di sini ahli-ahli dari ITB dan ITS juga banyak. Asal Pak SBY mau saja...Asal Pak SBY mau saja... kata Mas Bambang berkali-kali.

Bagong berkali-kali juga bilang, perempuan tower itu dulunya juga ndak bosen-bosen mengungkapkan cintanya ke Pak Lesmana. Pernyataan asmaranya berulang-ulang seperti kebakaran kompor gas sampai hampir empat tahun, sampai hampir seusia terkatung-katungnya kasus blethok Lapindo.

Siang-malam selama empat warsa perempuan ini juga menyedu kopi luwak buat Pak Lesmana. Masih juga adik yang mirip Pak Rama ini menolaknya.

''Mungkin karena belum ada fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia...,'' sahut Petruk.

''Ndak,'' timpal Gareng, ''Kalau melihat setting cerita Bagong dan jenis nama-nama tokohnya, pasti ini terjadi sebelum Syarekat Islam berdiri deh. Jadi waktu itu pasti belum ada MUI.''

Bagong kesel ceritanya dipotong-potong. ''Bener. Waktu itu belum ada MUI. Padahal luwak sendiri kan nggak bisa dimintai fatwa apa kopinya halal apa mubah apa haram. Waktu saya tanya, luwak-luwak itu cuma cengar-cengir saja...''

Akhirnya Pak Lesmana mau juga kopi luwak hidangan perempuan itu. Tapi pas perempuan cantik itu nyosor-nyosor pengin mencium Lesmana, Lesmana dengan indra gaibnya sanggup mengendus bau keringat raksasa. Ah, ini bukan perempuan biasa. Seketika hidung perempuan itu dipuntirnya sampai patah dan berdarah-darah. Wujudnya seketika berubah ke bleger aslinya, raksasa. Namanya Sarpakenaka! Sarpa artinya panjang mengerikan. Kenaka berarti kuku. Raksasa perempuan yang berdarah-darah hidungnya itu berlarian sampai akhirnya manjat ke menara listrik tegangan ekstratinggi.

''Sik..sik..sik...Gong,'' sela Gareng, ''Kalau dia betul Sarpakenaka, mestinya dia lari wadul, lapor ke kakak kandungnya, raja raksasa Alengka si Dasamuka. Lha ini kok manjat tiang listrik?''

''Lha ya embuh, pokoknya dia ceritanya ke aku ya gitu...''

***

Terdengar dari puncak menara SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi):

Hahaha.... Aku ancene bukan Sarpakenaka, tapi kami sama-sama pemakan daging... Anak-anakku yang di SD dan SMP juga. Semua harusnya makan daging. Mau di Hari Anak Nasional atau hari Senin atau Jumat Kliwon atau hari apalah. Tapi bukan daging wereng. Tapi aku ikut rombongan grup facebook ''Say No to Krisdayanti...'' Tapi siapa tahu ada daging yang bisa dimakan di dalam grup itu... Tapi di puncak ini aku lebih tinggi dari Anang dan lumpur Lapindo. Tapi aku lebih tinggi dari siapa pun. Aku lebih luhur dari siapa pun. Lebih luhur dari tarif dasar listrik. Lebih luhur dari tingginya harga cabeeeeeee......Aku menaaaaaaang.....Maju tak gentar...mem­beeeeela yang tinggiiiii.....

*Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

komentar (0) / Read More

Senin, 19 Juli 2010 / Label: ,

Wayang Durangpo: Cinta Bertunas di Pangkal Nagasari


[ Minggu, 18 Juli 2010 ]
Cinta Bertunas di Pangkal Nagasari
Seluruh hal di madyaloka punya pengapesan. Bulan Rejeb Tahun Saka 1943, Belanda apes pada si Spanyol Andres Iniesta di final Piala Dunia menit ke-116. Dulu Belanda apesnya ke Pak Sakerah dengan clurit sakti Se Lerok. Tapi ayah Brodin ini juga punya pengapesan, Mbok Sakerah. Pak SBY dan Ibu Sri Mulyani juga punya nahas. Dalam dugaan skandal Century yang terlupakan itu pengapesan mereka mungkin Pak Ical.

Rahwana juga punya pengapesan kok.

Raja Diraja Alengka itu berkuasa dan ditakuti. Kakak tirinya sendiri yang kondang sakti, Prabu Danapati, Raja Lokapala, dibunuhnya pula. Tetap saja Rahwana punya pengapesan. Ayah Indrajit ini salah tingkah berbaur malu setiap menghadapi keponakannya sendiri, seorang perempuan yang ranum di dada dan menawan alisnya.

Dari pohon nagasari di taman Dewi Sinta ditawan, Raden Senggono alias Hanuman mengintip raja penyamun Rahwana main rayuan. Istri Prabu Ramawijaya dari Ayodya itu dicumbunya dengan berbagai nada-nada purba dan syair cinta. Aneka bebungaan ibaratnya telah ditumplek blek di seputar Sinta sampai wanginya semerbak meluap jauh ke luar taman. Begitu ada perempuan yang diintip Hanuman muncul menyajikan hidangan buat Dewi Sinta. Rahwana wajahnya kemerahan, sadar usia, nglentruk meninggalkan Taman Argasoka.

Senggono bahkan sempat mengintip perempuan yang ditakuti Rahwana itu berdebat. Bibirnya yang tipis dan merekah bergetar. Bahkan dari sela dedaunan nagasari Senggono juga sempat mengintai perempuan bermata binar itu memaki-maki Rahwana alias Dasamuka. Dasamuka dihina-dina sebagai lelaki yang bukan saja punya rekening babi, tetapi juga punya tindak-tanduk tak ubahnya babi. Dan bagaimana daya magnit bertambah tatkala mata perempuan itu mendelik, parasnya merah padam dengan kernyitan kening dan perjumpaan kedua alis. Dan Senggono menyaksikan, setelah umpatan-umpatan perempuan itu Rahwana mendadak tunduk, ngacir dari Taman Argasoka.

***

''Juragan kami Rahwana punya empat saudara kandung,'' kata ponokawan Togog kepada Prabancana Siwi, nama lain Hanuman. ''Satu-satunya yang ndak rupa raksasa atau diyu ya Raden Goenawan Wibisana. Ejaan lama. Dia malah ganteng. Sifatnya pandita. Nah, orang inilah bapaknya perempuan itu. Alah... itu lho yang Sampeyan dari beduk tengah hari tadi amat-amati sambil ngumpet-ngumpet dan garuk-garuk. Mbok kiro aku ndak tahu? Nama perempuan itu adalah...''

''Hmmm...Di negaramu ini juga ada usaha pembunuhan?'' Hanuman nylimur, mengalihkan obrolan. Malulah ia ketahuan kalau mengendap-endap naksir perempuan asing. ''Ada nggak?''

''Ada dong,'' sahut ponokawan Bilung. Ia tak merasa sedang dislimur. ''Tapi di Alengka sini orang dibunuh karena ya untuk dimakan. Mereka ndak punya visi misi yang lain. Beta tahu betul. Beta dan Togog kan su mengabdi di sini sejak sebelum zaman Bung Soekarno. Lha namanya raksasa, buto, kalau ndak pi makan orang mau pi mbadog apalagi...Wong su takdirnya.''

''Makanya saya dan si Beta itu awet,'' Togog menimpal. ''Kami langgeng di Alengka sini karena dianggap bukan orang, ya syukur. Tapi di mana-mana di triloka yang namanya babu memang ndak direken sebagai orang. Saya ngupang-nguping katanya di Nusantara sudah mulai diatur jam kerja bagi babu-babu di rumah-rumah tangga. Ndak boleh lho sehari-semalam disurah-suruh terus nonstop kayak lampu stopan. Tapi buktinya mana? Mereka prei cuma pas Lebaran...''

''Alah, Mas Monyeeeet, Mas Monyet,'' sela Bilung, ''Sampeyan juga aman kok di sini. Pasti awet. Buto maunya cuma pepes orang kok. Mereka ndak doyan bacem munyuk...''

Maksud Hanuman, apa di Alengka juga ada usaha pembunuhan aktivis yang rajin wadul soal rekening gendut para punggawa negeri. Togog dan Bilung saur manuk bergantian membantah. Mereka bilang di Alengka percuma ada usaha coba-coba bunuh orang. Langsung bunuh saja, jadikan bancakan.

Kalau cuma main percobaan pembunuhan aktivis, wah... repot. Nanti calon korbannya malah cuma luka dan leyeh-leyeh di rumah sakit. Nanti Raja Rahwana mau membesuk ke rumah sakit juga serbasalah.

Rakyat Alengka sudah pinter-pinter karena nggak ada yang kelaparan, malah gizinya lebih dari cukup. Mereka juga gak usah terus-terusan mikir kebakaran tabung gas. Jadi mereka masih sempet mikir yang lain. Pasti mereka nanti berpikir, wah junjungan kami membesuk aktivis, mengalihkan perhatian. Nek Rahwana nengok ke rumah sakit, pasti aparat penegak hukum akan kelimpungan mencari siapa calon pembunuh pasien ini. Mereka dan juru warta, tidak akan puyeng lagi pada penyelidikan pemilik rekening babi...

Prabancana Siwi cepat memotong, ''Perempuan tadi juga punya rekening babi?''

Bilung, ''O tidak. Dia bukan babi, eh, bukan punggawa negara. Dorang putri kesayangan Raden Goenawan Wibisana. Ejaan lama. Dorang punya nama Dewi Trijata.''

Nah, ini dia. Hanya info tentang nama ini yang sesungguhnya sejak tadi dinanti-nanti oleh Prabancana Siwi alias Maruti. Obrolan ngalor-ngidul lainnya tidak penting. Maruti alias Pawana Suta sudah eneg ngomong masalah kemasyarakatan. Paling-paling abis itu masyarakat sendiri sudah lupa. Contohnya kasus Century dan lumpur Lapindo. Hmm...Akhirnya... Dewi Trijata to namamu, Diajeng... Nama yang syahdu.

***

Ponokawan Togog sebagai kakak Semar dan stafnya, Bilung, berada di Alengka punya tugas seperti LSM yang bener. Laksana LSM yang belum keblinger, tugas mereka mengingatkan para pamong praja agar kembali ke sirathalmustaqim. Tanpa kawalan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban mulut Togog-Bilung sudah sampai berbusa-busa. Keduanya mohon ke Rahwana agar mengembalikan Putri Mantili, Dewi Sinta. Sekarang mereka senang sekali memergoki Hanuman, duta Prabu Ramawijaya. Mereka berharap Dewi Sinta segera balik.

Kedua ponokawan itu lantas meninggalkan Hanuman di pohon nagasari seraya mengucapkan selamat bertugas sebagai duta. Tak lama kemudian, aduh, Hanuman melihat di kejauhan Dewi Trijata dengan kain parang rusak warna kapuranta, coklat kekuningan. Selaras betisnya yang kuning langsat. Ia berjalan menyangking timba. Rambutnya dibiarkan berangin-angin sepinggang. Banyak kupu-kupu terbang mengiringinya. Aneka belalang, walang kadung, walang daun, dan walang kayu pun berlompatan suka cita. Mungkin perempuan ayu itu hendak mengambil air buat Dewi Sinta ke sendang nun di bawah sana.

Ketika Dewi Trijata akan melewati pohon nagasari, belum sempat Hanuman bersembunyi, Dewi Trijata sudah keburu memergokinya. Hanuman panik. Ia tak ingin putri Goenawan Wibisana itu ketakutan dikageti monyet asing di Taman Argasoka. Ternyata Hanuman keliru. Dewi Trijata hanya tertegun. Terpana. Lalu putri yang dagunya belah itu mesem. Matanya berkaca-kaca.

Belum pernah Dewi Trijata terpesona menatap laki-laki selucu ini. Seluruh bulunya putih lebih lembut dari salju. Mana matahari senja dari sela-sela cengkeh, kapulaga, dan kayu manis membuat bulu putih kera ini berwarna semu lembayung semu keemasan. Dan mata lelaki ini tulus.

Dewi Trijata pernah diajak terbang oleh ayahnya melanglang di atas gunung-gunung: Gunung Suwela, Windu, Wreksamuka, Mahendra, Maenaka, dan Maliawan. Di bukit-lembah di antara gegunung itu Dewi Trijata melihat gambar-gambar para lelaki di pohon-pohon. Kabarnya untuk pemilukada. Dewi Trijata tak tahu apa itu pemilukada. Tapi bagi sang dewi tak satu pun di antara lelaki pajangan itu yang matanya tulus dan bersih. Berbeda jauh dibanding lelaki salah tingkah yang kini sendeku di hadapannya.

Baru kemarin Hanuman bertemu Dewi Sayempraba, perempuan ramah-tamah yang disangkanya penuh kasih sayang bagai sang ibu, Ratna Anjani. Ternyata putri Prabu Wisamarta itu telik sandi, mata-mata Rahwana. Buah-buahan segar yang disuguhkan Dewi Sayempraba dimanterai aji Kemayan. Anjani Putra jadi buta. Untung di dekat Gunung Suwela itu Anjani Putra ditolong oleh Raja Burung Sempati. Netra sang Anjani Putra kembali pulih sehingga kemudian sanggup ia lihat kecantikan Dewi Trijata dari pohon nagasari.

Ternyata tak setiap wanita cantik berbahaya bagaikan Dewi Sayempraba. Pembelaan-pembelaan Dewi Trijata terhadap Dewi Sinta membuktikan, tak setiap wanita cantik menyembunyikan taring dan cakar dan lendir beracun bagai Dewi Sayempraba.

Benih-benih rasa akan tumbuh di antara Trijata-Anjani Putra. Togog datang bikin kaget. ''Saya tahu Sampeyan kera sakti,'' bisik Togog. ''Sampeyan pasti punya aji panglimunan dan panyirepan. Buktinya seluruh raksasa pengawal istana sekarang bleg seg tertidur pulas. Tapi, waduh, aji Sampeyan bocor sampai ke Khatulistiwa. Kasihan nasib rakyat di sana. Produksi beras turun. Harga cabe melangit. Tapi mereka ndak punya pemimpin yang melek. Menteri-menterinya tidur saat sidang kabinet pembagian rapot...'' (*)

* Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com
Sumber: http://www.jawapos.co.id/mingguan/index.php?act=showpage&kat=11&subkat=16

komentar (0) / Read More

Minggu, 11 Juli 2010 / Label: ,

Wayang Durongpo: Terenyuh Sepasang Duda di Maliawan

[ Minggu, 11 Juli 2010 ]
Terenyuh Sepasang Duda di Maliawan
SEPASANG duda di gunung Maliawan. Wajahnya sendu. Keduanya bergerak ke Istana Guakiskenda. Jaraknya masih bergunung-gunung. Nun di balik gunung terakhir, di bekas istana raja raksasa Maesasura itu bersinggasana Resi Subali. Sosoknya kera. Matanya tajam. Dan ia sakti. Dasamuka dan Dewa Indra di kahyangan bahkan takluk. Permaisuri Resi Subali itulah Dewi Tara.

Dewi Tara...Dewi Tara..Putri Batara Indra. Engkaukah itu, perempuan ayu yang mendudakan banyak lelaki?

Duda pertama Sugriwa namanya, adik kandung Resi Subali. Wujudnya juga rewanda, monyet. Ia pun sakti. Tak aneh, keduanya putra Resi Gotama yang digdaya di Gunung Sukendra. Namun sesakti-sakti Sugriwa apalah artinya dibanding Subali.

Tendangan sakti Sugriwa di hari budha alias Rabu dahulu telah meluluhlantakkan Subali di atas tanah. Lihatlah! Aji Pancasonya membangkitkan Subali kembali hidup. Begitu mayatnya menyentuh bumi, Subali kembali gumregah segar bugar. Seketika ia banting Sugriwa. Sugriwa menyerah, sekaligus wajib menyerahkan istrinya, Dewi Tara, menjadi istri sang kakak.

Kini tinggal segunung lagi perjalanan sepasang duda ke Guakiskenda, di balik gugusan kabut, istana pengantin baru Subali-Dewi Tara. Kepada diri sendiri yang sedang dilanda sunyi Sugriwa bertanya, ''Sanggupkah bersama pertolongan duda yang baru kukenal di sebelahku ini...hmmm... Sanggupkah aku merebut Dewi Tara dari rengkuhan kakakku?''

***

Ponokawan Petruk juga bertanya, kok Wayang Durangpo hari ini nggak ada ngawur-ngawurnya babar blas ya. Nggak kritik sana nggak kritik sini. Mana bahasanya sok tertib lagi, kayak orang-orang manis di universitas.

''Mungkin karena dalang sudah merasa nggak ada gunanya lagi ngritik, Truk,'' celoteh Bagong, bungsu ponokawan. ''Kan kritik hanya mempan ke orang yang masih punya malu. Padahal kita sudah lama paceklik isin, kehabisan rasa malu. Pamong daerah yang sudah dua periode mimpin, masih mau tanduk lagi. Kalau ndak gitu, ndorong-dorong istri-istrinya jadi pemimpin baru.''

''Belum lagi, Truk, wakil rakyat, gaji wis sak langit, masih minta dana ini-itu. Abis itu penegak hukum nggak idep isin punya rekening gemuk, tambah ndak malu lagi malah ingin menyelikidi siapa yang main bocorkan nomor rekening. Tak pikir-pikir setelah semua itu kita terus tobat, kembali punya kerasamaluan. Eh, belum. Konco-konco yang ngurus sepak bola, sudah tahu sepak bola kita dedel duwel, perlu perhatian perlu duit perlu ini-itu yang diperlukan buat perbaikan, malah duitnya diperlukan untuk jalan-jalan rombongan ke Afrika Selatan.''

Gareng si tukang analisis mencoba tak turut larut dalam problem sosial. Sulung ponokawan ini mencari-cari kemungkinan lain. ''Wayang Durangpo bisa saja jadi kayak sekarang karena ''Batara'' Arief Santosa. Pukulun itu dewa dari Kahyangan Graha Pena yang menjaga rubrik ini dan ngasih kemerdekaan. Katanya ndak harus ada kritik sosial. Kalau memang lagi ndak mood ngritik sosial, ya ndak usah dipas-paskan dengan peristiwa sosial. Berdiri sendiri saja. Begitu dawuhnya Kanjeng Batara. Dan ndak usah mikir macem-macem. Dalang kan juga manusia. Siapa tahu Wayang Durangpo bisa jadi kayak sekarang ini karena dalangnya lagi jatuh cinta kepada anake sing dodol rujak cingur...''

***

Ooo...Cinta...cinta adalah seluruh keherananku kepada manusia...(kutipan syair Afrizal Malna)

Sugriwa ingin lebih banyak mengadu pada duda yang baru dikenal di sebelahnya. Tetapi bagaimana caranya? Lelaki tampan itu juga terlunta-lunta, baru saja kehilangan istri di hutan Dandaka. Bagaimana Sugriwa akan menumpahkan perasaannya pada lelaki yang matanya sedang menerawang tak tentu langit? Malah lelaki ini kadang bercakap-cakap kepada akar dan perdu, tersenyum dan sesenggukan, seakan pohon dan dedaunan adalah mantan istrinya yang berdenyut di dalam hutan.

Suatu fajar, sorot matahari bermasukan dari sela-sela rerimbun hutan membentuk jutaan benang cahaya, lengkap dengan semburat warna-warninya pada kolang-kaling, langsep, jambu bol, kedondong, blimbing wuluh, dan lain-lain, lelaki tampan itu siuman dari gandrung-nya. Ia ingin berbagi pada Sugriwa. Bagaimana rasanya pernah memiliki istri setia. Baru manten anyar, lelaki ini diusir ke tengah hutan. Lelaki itu bergegas pergi sendiri ke belantara karena tak ingin menyusahkan istri. Tapi sang istri nangis-nangis bergelayutan nggondeli suaminya terkasih, minta diajak serta. Ia tak tega suaminya sendirian di kelembaban yang asing. Hari-hari mereka lalui berdua di peraduan hutan sampai tiba-tiba sang istri lenyap.

Lelaki yang baru tersadar dari kasmaran itu tak bisa menumpahkan segalanya kepada Sugriwa karena, seperti bergiliran, Sugriwa kini malah sedang dilanda kunjana papa. Kunjana sakit. Papa edan. Sugriwa kelimpungan pada mantan istrinya, Dewi Tara.

''Sugriwa, aku akan membela kamu. Bisa kuhayati sebeban apa rasa dipisahkan dari perempuan tercinta...''

''Aku yang akan membelamu, hei lelaki!!!'' teriak Sugriwa, ''karena telah aku alami beban terpisah dari wanodya yang kita cintai...''

Sehabis teriak tiba-tiba Sugriwa terbahak-bahak, tiba-tiba menangis. Ada ular, dipeluknya ular. Dielus-elus dan diciuminya taksaka itu seakan-akan ia Dewi Tara.

''Oh, Dewi Tara,'' desah Sugriwa selepas rangkulannya dari sang ular. Ia kini memeluk singa, berbincang kepadanya. ''Dahulu tak salah aku nikahi kamu, Tara. Batara Indra janji, siapa sanggup membunuh Maesasura dan tunggangannya, Jatasura, akan mendapat cintamu sebagai anugerah. Kakakku Subali masuk ke istana megah yang mulut gerbangnya bagaikan gua mengerikan itu. Aku tak boleh masuk. Aku disuruh menunggu di depan mulut gua. Kakakku Subali yang berdarah putih itu bersabda, kalau nanti mengalir darah putih di mulut gua, berarti aku yang mati. Tutup lekas-lekaslah pintu gua, agar semuanya mati di dalam gua...''

Kini Sugriwa memindahkan dekapannya pada trenggiling. Di matanya, hewan ini adalah sang dewi yang tiada tara. ''Aku sayang banget sama kamu, Tara. Aku lanjutkan ceritaku, ya Tara. Ternyata yang mengalir di mulut gua darah merah dan putih. Sedih sekali kakakku mati. Aku segera naik ke kahyangan melapor Batara Indra. Saking bahagianya atas kematian pengacau kahyangan Maesasura dan Jatasura, Batara Indra menghadiahkan putrinya sebagai istriku...''

Bagai lolong serigala Sugriwa lalu berteriak kepada sulur-sulur rimba, mengagetkan perkutut, betet, drekuku, sriti, murai, dan blekok. ''Oooo Mas Budionoooo, Mas Budionoooo...tulung gambar ilustrasi Wayang Durangpo sekarang yang romantis banget ya....bagai tembang Dhandhanggula Sidoasih...

Pamintakuuuuu...Nimas Sidoasiiiih...Anut runtut tansah reruntungaaaaan.....''

***

Yang tewas di Guakiskenda ternyata cuma Maesasura dan Jatasura. Yang putih-putih bukan darah Subali. Warna putih hanya ceceran otak raksasa dan tunggangannya. Subali ngamuk. Pintu gua didobrak, dijebolnya. Ia banting Sugriwa hampir mati. Untung adik yang dicintainya itu masih sempat meruntutkan apa yang sesungguhnya terjadi. Hati Subali luluh. Ia serahkan istana Guakiskenda. Didoakannya pula pernikahan Sugriwa-Dewi Tara langgeng di dalam cinta.

Tapi Rahwana menyusupkan Wil Sukasrana. Mata-mata ini berubah rupa menjadi inang pembantu Dewi Tara. Suatu hari inang pembantu Dewi Tara itu mengarang-ngarang cerita. Ia mengada-ada dan mengadu pada Subali bahwa Dewi Tara dipukuli Sugriwa. Pasalnya, Dewi Tara merasa, yang berhak menikahinya adalah Subali, karena Subalilah yang berhasil membunuh Maesasura dan Jatasura.

Amuk! Amuk! Amuk!

Subali menggempur istana Guakiskenda. Ia hajar habis adiknya yang tak tahu apa juntrungannya tiba-tiba dihajar. Sugriwa lalu dilemparnya hingga jatuh ke Gunung Wreksamuka di sekitar Maliawan. Hari itu juga Dewi Tara direbutnya sebagai istri bahkan hari ini telah mengandung anaknya.

Dan hari ini, sepasang duda itu telah sampai di mulut Guakiskenda. Sugriwa menyumbarkan tantangan. Subali keluar. Peristiwa dulu-dulu terulang kembali. Subali berkali-kali membanting Sugriwa. Saat Sugriwa makin sekarat, tatkala Subali terakhir akan membantingnya, rongga dada Subali panas dadakan. Mendidih. Ada panah nancap di situ dan melontarkan Subali mengambang tak menyentuh bumi.

''Panah kamukah ini, Kisanak?'' tanya Subali tersengal-sengal kepada lelaki yang tiba bareng Sugriwa. ''Tak pangling lagi aku. Hanya panah Guwawijaya yang akan sanggup menyudahiku. Ini pusaka dari Ayodya. Jadi, kamu Prabu Ramawijaya?''

Mestinya Sugriwa kaget mendegar bahwa duda teman seperjalanannya ternyata titisan Batara Wisnu. Tapi badannya yang nyaris remuk masih menahan sakit sambil memandangi Dewi Tara. Siapa yang ditangisi sang dewi? Dirinya yang babak belur? Atau waspa Dewi Tara itu sejatinya menetes untuk yang baru wafat, tapi mengapa Wisnu lebih ingin Tara kembali kepadaku?

Duda yang satu lagi tak sempat mendengar namanya disebut-sebut oleh Subali sebelum tewas. Ia juga tak tahu bahwa sikapnya sedang direnung-renungkan oleh Sugriwa. Jiwanya masih terhuyung-huyung pada cintanya yang telah lenyap.

Dalang juga bingung bagaimana seyogyanya mengakhiri lakon ini. Hatinya masih sempoyongan...pada anake sing dodol rujak cingur...
*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

komentar (0) / Read More

Minggu, 04 Juli 2010 / Label: ,

Wayang Durongpo: Weladalah...Kaum Waria di Negeri Wirata


[ Minggu, 04 Juli 2010 ]
Weladalah...Kaum Waria di Negeri Wirata
MENURUT pakem pewayangan, rampung 12 tahun ngumpet di belantara, Arjuna masih harus singitan setahun lagi di kerajaan Wirata. Anggota Pandawa ini harus nyamar jadi waria. Namanya juga harus khusus. Nggak boleh mirip dengan nama konco-konco waria di Stasiun Malang. Namanya Kandi Wrahatnala.

Tapi onok masalah. Nduk negara yang dirajai Prabu Matswapati itu lagi santer-santernya ada gerakan anti-waria yang diprakarsai oleh ormas FPK, Front Pembela Kebetulan. Barang siapa tidak betul akan dibetulkan. Nek perlu kebetulan itu akan ditegakkan lewat jalur jotos-jotosan.

Saking judeknya dan takut jadi banci, Arjuna punya ide lain. Yok opo nek sesinglon warni jadi koruptor saja? Jadi koruptor akan jauh lebih aman ketimbang jadi bences. Front Pembela Kebetulan di negeri Wirata toh tak akan ngganyang bala koruptor. Biasanya mereka cuma punya nyali ngamuk anderpati pada penyanyi seksi, penjual miras, tukang judi, dan waria. Mungkin karena korupsi dianggap sudah betul. Tidak perlu dibetul-betulkan lagi melalui tinju gaya bebas.

Nama ganti Arjuna sudah disiapkan. Yaitu Raden Wraha Rekening. Wraha berarti babi hutan alias celeng. Raden Wraha Rekening berarti ksatria yang tabungannya tambun seperti celeng.

***

Ponokawan Bagong mendukung sekali. Itung-itung, ketimbang juragannya nyaru jadi banci malah diantemi Front Pembela Kebetulan, remuk jadi kerupuk nduk Rawon Setan. Arjuna alias Ciptaning total menyamar jadi perempuan pun bungsu ponokawan itu ndak setuju. Bilang misalnya berganti rupa Rieke Dyah Pitaloka dan Ribka Tjiptaning yang baru saja bertandang ke kawasannya Menak Jinggo.

''Mpun to, ndoro Arjuna. Monggo nyamar jadi koruptor saja. Raden Wraha Rekening itu nama yang tepat,'' kata Bagong.

Balik ke ide semula njadi wandu Kandi Wrahatnala? Ooo, Bagong tidak bisa membayangkan akibatnya. Kekuatan Front Pembela Kebetulan sangatlah dahsyat. Di mata Bagong setara dengan Raden Gandamana, mahapatih Pancala. Ia ingat salah satu guru Bima ini menghajar Harya Suman yang awalnya ganteng sampai babak belur jelek jadi Sengkuni. Dilibasnya pula Bambang Kumbayana yang asalnya cakep sampai buruk rupa dan full cacat jadi Pandita Durna.

Ooo...Bagong tidak bisa membayangkan tindak-tanduk Gandamana itu akan dipraktikkan oleh Front Pembela Kebetulan kelak terhadap waria Kandi Wrahatnala.

Hanya Gareng yang masih pikir-pikir apakah ide Arjuna menyamar koruptor memang sudah pas. Sulung ponokawan ini mandek-mangu. Jadi waria Kandi Wrahatnala yang menjadi guru masak dan tari di dalam keraton, lebih mungkin tidak dipergoki oleh Front Pembela Kebetulan. Jadi koruptor? Waduh! Nanti kalau dituntut dan diselidiki oleh Jaksa Agung, tak urung identitas Raden Wraha Rekening akan terungkap di pengujung 12 tahun persembunyian Pandawa. Dan itu berarti, sesuai perjanjian judi dengan Kurawa, Pandawa harus balik lagi sembunyi di rimba selama 12 tahun.

***

Kita tahu sama tahu, setelah kalah taruhan dalam lakon Pandawa Dadu, Kurawa mewajibkan Pandawa sembunyi di hutan selama 12 warsa. Dalam tempo itu sekilas pun mereka boleh ketahuan keberadaannya. Jika ketahuan, mereka harus mengulang hitungan 12 tahun kembali dari nol.

Syahdan, di suatu hari sukro alias Jumat, di tengah hutan, tepatnya di tepi Telaga Dewatawana, Dewi Drupadi yang sedang ditemani Bima terpana oleh teratai keemasan yang tiba-tiba kampul-kampul di muka telaga.

''Bima yang gagah pideksa,'' lirih ucapan Dewi Drupadi, istri para Pandawa, ''Kalau kau memang mencintaiku, setimpal dan setara seluruh cinta kakak dan adik-adikmu terhadap diriku, tolong ambilkan teratai kencana itu, untukku...''

''Hmmmm...'' Bima cuma nggereng-gereng. Ksatria Jodipati ini memang telah mendapat warisan aji Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa dari Raden Gandamana, aji yang sangat sakti dan mungkasi karya. Tapi Bima juga sangat awas. Terawanglah! Telaga Dewatawana bukan telaga biasa. Sangat angker. Hantu Keramas dan Suster Ngesot pun dijamin merinding mencebur telaga itu.

''Ayolah Bima, satrio godek wok simbar jojo. Begitu nistakah diriku sebagai istri kalian? Sampai tak berhak mencicipi sedikit kebahagiaan di tengah siang malam menemani pembuangan Pandawa selama hampir 12 tahun. Kalau kamu tidak dapat...?''

Byurrrr!!!!

Bima mencebur telaga. Bareng dengan penggebyuran Bima, telik sandi Kurawa yang sudah lama mengendap-endap di balik pohon beringin alas seketika menyergap sang Dewi. Jeritan Drupadi terdengar sampai ke balik gunung. Arjuna tersentak. Maling berhasil disergap dan diringkusnya. Ternyata sang durjana adalah Raden Jayajatra yang sejak dulu kala memang ngebet pada Drupadi. Ksatria dari Banakeling itu diserahkan kepada pemimpin Pandawa, Puntadewa. Cilakanya, Puntadewa mengampuni dan menyuruh Jayajatra pulang ke markas Kurawa di Astina.

Hutan pengasingan kembali tenteram.

Tiga hari setelah itu baru Pandawa panik. Gara-garanya Gareng pas tidur nglindur, ''Lho, Jayajatra akan lapor ke Prabu Duryudana. Berarti seluruh Kurawa sekarang sudah tahu di mana Pandawa berada...Aduh berarti kita harus mengulang nderek Ndoro Arjuno ngungsi 12 tahun lagi... waduh...waduh...!!!"

Gara-gara inilah Pandawa memutuskan segera hengkang dari hutan. Mereka mencari persembunyian baru sampai akhirnya mendapatkan gerbang negeri Wirata.

Sssttt....Andai ponokawan Petruk sudah pulang dari cuti ngungsi, mungkin Pandawa tak perlu tergopoh-gopoh pindah. Raden Jayajatra, menurut Petruk, tidak pernah resmi diangkat mewakili Kurawa. Maka ilegallah seluruh kegiatannya atas nama Kurawa memata-matai Pandawa.

***

Di luar hutan, ketika cuti pulang kampung, Petruk mendengar desas-desus bahwa kedudukan Jaksa Agung tidak sah. Tidak pernah ada surat pengangkatan oleh presiden. Itu menurut pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra. Betul atau tidak betulnya fakta ini Petruk tidak tahu betul. Biarkan itu jadi urusan Front Pembela Kebetulan. Tapi, dari kabar burung itu Petruk jadi teringat lakon yang sama. Raden Jayajatra juga gak punya surat pengangkatan sebagai orang Kurawa lho.

''Ooo..gichu to? So actually Jayajatra itu not orang Kurawa?'' tanya lelaki di sebelah Petruk. Lelaki mirip pemain bola Jose Antonio Reyes dari Atletico Madrid ini adalah teman seperjalanan kereta api Petruk yang akan melintasi Saradan, Madiun.

''No. Jayajatra is all Pandawa men malah. Dia itu ari-arinya Bima. Tapi bungkus Bima ini kuat sekali. Ndak pecah-pecah. Akhirnya sekjen dewata Batara Narada cawe-cawe...''

''What? Cewek-cewek?''

''No. Cawe-cawe is Down-Hand...Turun tangan. Narada meminta gajah Astina bernama Sena untuk menendang bungkus itu. Bungkus pecah. Ketuban muncrat. Bima nongol. Bungkusnya tersapu angin menjadi Bambang Sagara alias Arya Tirtanata...ya Raden Jayajatra. Tanpa surat pengangkatan, Mahapatih Sengkuni dari Kurawa membiarkan Jayajatra bergabung dengan Kurawa, dibiarkan merasa jadi anggota kesebelasan itu.''

***

Di dalam hutan, Gareng dan Bagong tidak tahu bahwa Petruk masih dalam perjalanan dengan kereta api. Mereka hanya tahu, harusnya hari itu Petruk sudah habis masa cutinya. Petruk sudah harus masuk kerja menemani pengungsian para majikan.

Andai Petruk telah tiba, Arjuna dan para Pandawa ndak perlu repot-repot meninggalkan hutan karena yang menandai keberadaan mereka baru Jayajatra. Penyidik ini tidak mempunyai surat pengangkatan resmi dari godfaher Kurawa, Prabu Duryudana.

Kalaupun Pandawa harus meninggalkan hutan juga karena sudah bosan hampir 12 tahun tenguk-tenguk di dalamnya, saban hari mbumbuti lintah di badan, keberadaan Petruk akan membuat Raden Arjuna mantab. Arjuna tak perlu ragu-ragu untuk menyamar menjadi koruptor bernama Raden Wraha Rekening.

Oooo...cuti pulang kampung membawa berkah buat Petruk. Di kampung dia dapat banyak pelajaran yang tak mampu diraihnya dari dunia wayang. Petruk akan matur pada Ndoro Arjuna, ''Sudahlah. Jadi koruptor lebih aman kok. Kalau ada koran atau majalah bikin kabar soal rekening Ndoro, kalem saja. Ndoro tidak akan diusut. Kedok Ndoro tidak akan terungkap. Yang akan diusut bukan pelaku koruptornya kok, tapi siapa yang menyebarkan nomor rekening itu ke koran...dakwaannya melanggar rahasia negara.''

Ah, sayang disayang Petruk belum sampai di hutan itu. Ia masih dipijeti oleh suster di rumah sakit. Kereta apinya masuk jurang.

Lalu masuk ke rumah sakit itu Front Pembela Kebetulan. Petruk senang. Mereka pasti akan memburu siapa saja yang ndak betul, yang jadi biang keladi kecelakaan kereta api berkali-kali.

''Sssttt...Bukan,'' isyarat suster, ''Mereka akan merazia suster-suster yang pakaiannya seksi...''

*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

komentar (0) / Read More

Minggu, 27 Juni 2010 / Label: ,

Wayang Durongpo: Jin Buang Anak di Wanamarta


[ Minggu, 27 Juni 2010 ]
Jin Buang Anak di Wanamarta
ANGKANYA sama, 32. Yang beda cuma maksudnya. Angka selapan kurang tiga itu bukan genapnya kaum bidadari dunia. Itu bilangan peserta Piala Dunia 2010 yang hari ini kesaring tinggal jadi 16 tok. Prancis mbarek Italia yang biasa digadang-gadang masuk final, hehehe...jeblok juga. Wong untuk masuk 16 besar saja mereka gak dapet pintu. Yang gak dinyana-nyana seperti Slovakia, Korea Selatan, Jepang, Meksiko malah lulus seleksi di negara orang-orang kulit manggis itu.

Ini membuat Gareng bikin analisa. Kalau begitu partai-partai besar seperti Demokrat, Golkar, dan PDI-P yang dilelo-ledung masuk final Pemilu 2014, bahkan perempat final juga belum tentu nyemplung. Mungkin saja lho nanti yang nepuk dada malah partainya Paijo dan Paijem. Paijo kalau tidak salah bikin calon partai Nasional Demonstran. Paijem bikin calon partai nasional apa gitu..Oh, ini, partai lokal Nasional Lumpur Jawa Timur.

Dua-duanya tidak punya dana kampanye. Wong makannya saja kalah mahal ketimbang kelincinya Prabu Duryudana. Apalagi kalau harus mbayari konsultan politik kayak Batara Narada dan Batari Durga yang lihai mengubah citra para calon.

Mahal lho. Dan, biasanya sukses. Calon akhirnya terpilih.

Batara Narada pernah ndandani Subadra dan Srikandi. Tak tanggung-tanggung jadi perempuan yang berbeda sama sekali. Keduanya malah dadi wong lanang. Masing-masing jadi Bambang Sintawaka dan Bambang Kandihawa. Dengan topeng tersebut kedua istri Arjuna ini mencari suaminya yang ndak pulang-pulang. Padahal Arjuna bukan sopir truk jalur pantura yang di belakang baknya tertulis ''Jangan Kau Buat Aku Duda Nestapa''.

Ooo...Amenangi zaman edan

Sopo sing gak dandan gak kumanan

Nanging sakbejo-bejone wong sing dandan

Luwih bejo maneh wong sing dandan tapi tambah terus dandan

Masih soal macak-memacak, dengan bayaran yang jauh lebih selangit, Batari Durga dari Setra Gandamayit pernah maesi Burisrawa yang bermuka raksasa menjadi pemuda berparas ganteng tatkala anak Prabu Salya ini gandrung-gandrung kapirangu pada Dewi Subadra dari Mandura. Sama tampannya dengan Arjuna. Nyaris saja Subadra alias Rara Ireng terkecoh. Persis pada umumnya masyarakat ngiler tergiur mencontreng orang-orang maupun partai-partai hanya gara-gara kepincut polesan juru rias politik.

Untung waktu itu ponokawan Semar membuat Mbok Badra eling. Orang jangan dinilai dari tampang, penampilan atau kampanyenya. Adik Prabu Baladewa dan Kresna ini ingat buah dondong. Mukanya bagus tapi isinya berduri. Lalu Subadra inget kulitnya sendiri yang seperti buah manggis. Mampirlah kenangannya pada lagu Rhoma Irama yang dibawakan Rita Sugiarto...hitam kulitnya hitam...tetapi putih isinya..itulah...manggis namanya....

Setelah Subadra alias Bratajaya siuman, Semar alias Badranaya kasih garis bawah, ''Sejatinya kalau semua kita selalu eling lan waspodo perumpamaan manggis dan kedondong, semua konsultan politik itu akan gulung tikar. Mata hati masyarakat sepertinya akan dipolesi minyak jayeng katon milik Ndoro Arjuna. Mata mereka akan tembus langsung sanggup menerawang isi, bukan cuma melihat kulit-kulit bikinan konsultan politik.''

***

Paijo dan Paijem dalam mencalonkan diri belajar dari kesaksian ponokawan Petruk ketika nderek Pandawa babad hutan Wanamarta. Menurut Petruk, kampanye Prabu Yudistira dan seluruh adik-adik Pandawa tidak pakai mulut dan pengeras suara maupun spanduk dan iklan-iklan. Mereka langsung bekerja di dapil alias daerah pemilihan tersebut.

Suri tauladan itulah yang diambil oleh Paijo dan Paijem. Keduanya langsung bekerja di dapilnya masing-masing lima tahun sebelum pemilu berlangsung. Nanti pas pemilu ndak pakai kampanye-kampanyean karena masyarakat sudah mengenal mereka.

Coba, kurang apa Wanamarta alias Kandawaprasta. Awalnya kawasan itu ibarat kandang jin buang anak. Bos jin bernama Yudhistira. Adik-adiknya bernama Dandunwacana, Kombang Ali-ali, serta Nakula-Sadewa. Tapi saking nge-fansnya pada kerja nyata Pandawa yaitu Puntadewa, Bima, Arjuna, dan kembar Pingten-Tangsen sampai-sampai jin-jin yang semula anti itu kemudian bergabung. Mereka malah sampai menghadiahi namanya masing-masing. Puntadewa jadi Yudhistira. Bima salin Dandunwacana. Arjuna malih Kombang Ali-ali. Kembar tambah julukan Nakula-Sadewa.

Paijo lebih fokus pada tauladan Pingten. Dia mengerjakan pertanian dan penghijauan di tiga kabupaten dapilnya. Dalam tempo hampir 3 tahun, penduduk sudah bisa merasakan kerja Pingten. Tak cuma sawah dan tegal penuh tanaman. Pekarangan belakang penduduk telah menjadi karangkitri, penuh tanaman obat-obatan dan lalap-lalapan. Sekali dua kali, Paijo meniru Puntadewa mengajarkan olah spiritual, meneladani Arjuna melatih bela diri, tut wuri Bima membangun infrastuktur pedesaan seperti jalan dan irigasi.

Paijem di dapil lain juga seperti itu. Ia tiru Puntadewa, Bima, dan Arjuna, tapi ia tidak lebih fokus pada tulada alias contoh Pingten sebagai pemelihara flora. Titik berat Paijem lebih pada palupi atau tauladan Tangsen sebagai pemelihara fauna. Rata-rata penduduk di tiga kabupaten dapil Paijem sekarang telah memiliki kambing, kerbau, dan sapi yang montok-montok dan semok-semok. Setiap hari terdengar lenguhan kerbau-sapi dan kambing mengembik selain suara kutilang, podang, gelatik, dan lain-lain di dahan ranting, di pohon-pohon, baur dengan bunyi ayam bekisar dan para jengkerik.

***

Tahun 2014.

Sekarang yang agak kewalahan Bagong. Konco-konco Bagong yang bekerja di media cetak, media televisi, radio, dan sablon kaus juga spanduk sekarang mulai mengeluh. Bagong hampir tiap hari dicurhati mereka bahwa dalam pemilu sekarang media massa dan sablon kaus akan bangkrut.

Kekhawatiran mereka, berdasarkan dukungan moral terhadap Paijo dan Paijem, tidak akan ada lagi reklame dari partai politik dan tokoh-tokoh politik di media massa, kaus-kaus, dan umbul-umbul. Semua sudah merasa telat dan kalah start dengan Paijo-Paijem yang kini menjadi buah bibir masyarakat meski tanpa melalui pariwara. Apalagi Paijo dan Paijem sudah ditiru oleh ribuan kontestan lain yang bermodal dengkul baik di pemilu besar maupun pemilukada.

''Alah, Gong, Gong...,'' kata salah seorang ahli keluh kepada Bagong. ''Daripada pasang advertensi dan bikin kaus, mending duitnya buat kawin lagi saja.''

Juru keluh yang lain menggerutu, ''Kampanye di baliho-baliho? Nempel potret di pohon-pohon? Apikan duitnya buat pasang taruhan Piala Dunia tahun ini (2014). Kita mesti kalah sama Paijo-Paijem. Mereka sudah kampanye diem-diem, kerja nyata sejak lima tahun yang lalu.''

***

Ternyata iklan media massa dan sablon kaus masih payu buat kampanye partai politik dan para tokohnya. Para karyawan media massa dan tukang kaus kembali punya greget kerja. Keluarganya kembali semringah. Sebabnya? Partai dan tokoh-tokohnya tiba-tiba ngeh, Piala Dunia berbeda dengan pemilu. Menurut ponokawan Limbuk dan Cangik, di Piala Dunia wasit tak etis ujuk-ujuk berhenti di tengah jalan untuk ganti peran jadi pemain. Pemain jadi pelatih banyak, seperti Diego Maradona dan Franz Beckenbauer. Maka bisa muncul unggulan-unggulan baru yang tak disangka. Sebut misalnya Slovakia dan Meksiko.

Penjelasan Limbuk dan Cangik itu tentu sukar kita nalar. Hubungannya apa antara tak adanya pergantian wasit ke pemain dan munculnya unggulan baru seperti Korea Selatan dan Jepang. Tapi coba kita ikuti saja penalaran ponokawan perempuan ini.

Menurut mereka, di dalam pemilu, wasit bisa dadakan mandek di tengah jalan dan lalu jadi pemain. Tokoh KPU bisa berhenti di tengah jalan, lalu jadi pemimpin partai politik. Contohnya Ibu Andi Nurpati. Maka, tidak mungkinlah orang-orang macam Paijo dan Paijem menang pemilu. Pemenangnya pastilah semua yang sudah kita ramalkan via kampanye gede-gedean dan polesan tata rias oleh konsultan politik.

Tiba-tiba salah seorang teman Bagong yang bekerja di sablon kaus ketangkap nyolong ayam. ''Kamu ndak tahu to berita baru?'' tanya Bagong. ''Pekerjaanmu di sablon gak jadi terancam bubar. Orang-orang akan tetap kampanye seperti biasa. Lha kok kamu nyolong ayam?''

''Ngene lho Mas Bagong, saya itu ngefans banget sama artis-artis. Tapi minta tanda tangan susah banget. Makanya saya pengin masuk penjara, biar gampang minta tanda tangan sekalian nginep bareng,'' kata teman Bagong itu sekenanya. (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

komentar (0) / Read More

Minggu, 20 Juni 2010 / Label: ,

Wayang Durongpo: Heboh Video Mirip Duryudana-Dewi Dollywati


[ Minggu, 20 Juni 2010 ]
Heboh Video Mirip Duryudana-Dewi Dollywati
LISTRIK boleh jadi pahlawan di Dhaka, Bangladesh. Masyarakat di sana begitu mendamba pada listrik. Listrik padam, mereka tak dapat nonton via televisi dua tim favorit mereka, Argentina lawan Nigeria di Piala Dunia 2010. M
Terbitkan Entri
aka ngamuklah mereka dan merusak kota.

Lain lubuk lain ikannya. Lain listrik di Bangladesh, lain pula listrik di suatu negeri. Di negara itu listrik malah jadi kambing hitam.

***

Sudah ada titik gamblang soal video porno yang dibintangi orang yang mirip Prabu Duryudana dan mirip permaisurinya, Banuwati. Begitu juga video antara orang yang pleg memper Raja Astina itu dengan perempuan entah siapa. Konon namanya Dewi Woro Sri-Dolly. Mereka ndak perlu lagi repot-repot bikin pernyataan pers bahwa mereka nggak kayak yang dituduhkan oleh masyarakat. Titik terangnya adalah PLN. Akhirnya listriklah yang dinyatakan bersalah.

Tanpa listrik, ndak mungkin penduduk sanggup nyetel adegan-adegan ulah kridaning priyo-wanodya itu. Tanpa listrik, ndak mungkin orang sanggup mengabadikan momen-momen karonsih tersebut.

Gareng mendebat Bagong. Menurut Bagong, muter gambar pakai komputer di kantor-kantor baru pakai listrik. ''Nek nyetel gambar-gambar itu lewat handphone, kan cuma pakai batere?'' kata si bungsu ponokawan. Gareng dengan gampang membantah. Menurut si sulung, mau pakai batere atau apa, tetap saja orang-orang pada dasarnya menggunakan listrik. ''Coba saja kalau batere itu ndak dicolokkan ke PLN, apa bisa jalan?''

''Ooo, jadi yang salah PLN?'' ponokawan Petruk menyela. Seperti biasa, ia asal ngomong. Meski asal njeplak Petruk mulai bisa mengerti kenapa kok akhirnya pakar-pakar hukum tidak baku bantah lagi soal siapa yang bersalah dalam perkara video porno.

Pantesan, pikir Petruk, orang-orang sudah tidak pating pecotot lagi bab siapa yang keliru dalam kasus video porno. Apa yang salah pelaku adegan, pengambil gambar atau orang yang menyebarkan gambar-gambar itu. Apakah terhadap semua itu akan dikenakan pasal-pasal dalam KUHAP, apa undang-undang pornografi atau apa ITE.

Semua tak lagi saling menyalahkan. Kambing hitam sudah ditemukan. Tapi mereka juga tidak mau begitu saja mengambing-hitamkan alam. Mereka belajar hal ini dari kasus lumpur Lapindo yang sudah 4 tahun lebih terkatung-katung. Sekarang semua sudah sepakat. Yang bersalah dalam kasus video porno adalah listrik.

***

Namanya juga negara yang ngakunya demokratis. Mesti ada yang beda pendapat. Wong Indonesia itu tidak terdiri atas 240 juta penduduk. Yang bener, negeri khatulistiwa ini terdiri atas 240 juta pendapat. Yang ndak sarujuk menyalahkan listrik bilang, listrik justru sangat berfaedah.

Ingat, sebelum ABRI (sekarang TNI) dan listrik masuk desa pada zaman Pak Harto, desa-desa begitu gelap. Maka pertambahan penduduk begitu cepat. Banyak banget orang hamil. Dikit-dikit hamil. Dikit-dikit meteng.

Oooo jroning peteng akeh wong lali

Jroning lali akeh wong meteng...

Maka, setelah terang-benderang, perempuan hamil jadi berkurang.

Dan lihatlah, dalang-dalang kalau manggung juga tidak perlu lagi pakai lampu obor wayangan, blencong. Dulu sebelum listrik populer, berapa kali dalam semalam suntuk dalang kudu berdiri ngisi minyak blencong di atas kepalanya? Belum lagi percikan-percikan api blencong seperti kunang-kunang yang suka mampir ke wajah dan blangkon dalang.

***

Alkisah, saking tak ingin turut menyalahkan listrik dalam kasus video porno, sampai-sampai seorang dalang secara spontan sedikit mengubah lakonnya ketika pentas. Semula Pak Dalang diminta melakonkan terjadinya alam semesta yang mirip teori big bang atau ledakan raksasa dalam astronomi.

Ingat kan? Kaum astronom yakin dan bisa kasih penjelasan, alam semesta semula berasal dari benda yang besarnya ibarat lebih kecil dibanding sebutir merica. Tapi kepadatan benda sa' merico binubut ini amat sangat tinggi. Maka besar pula gravitasinya. Jangankan Anggodo, cahaya yang lewat nun jauh di atasnya saja bisa belok tersedot oleh benda itu. ''Merica'' ini kemudian meledak. Puing-puingnya menjelma matahari, bumi, bulan, dan berbagai-bagai yang lain.

Di alam pedalangan, big bang adalah sebutir telor yang menetas. Kulitnya membentuk Togog, ponokawan bagi dunia hitam. Putihnya berganti rupa Semar, ponokawan bagi dunia putih. Kuningnya mak jleg jadi Batara Guru yang menguasai kahyangan.

Improvisasi yang dibuat Ki Dalang malam itu ngene:

Telor ayam tidak menetas. Telor hanya dierami oleh anak manusia. Anak manusia ini, kelahiran Ohio Amerika 1847, memang sangat nyleneh sampai-sampai di-DO, dikeluarkan dari sekolah. Si anak drop out sekolah itu yakin, kalau dierami ayam telor bisa netas, berarti dierami manusia, dengan panas dan kehangatan yang sama, telor itu akan netas pula.

Anak itu bernama Thomas Alva Edison yang kelak dalam jalan hayatnya berhasil menemukan listrik.

***

Pak Dalang melakonkan, anak yang dipanggil Al itu ndak terima hasil temuannya dijadikan kambing hitam dalam perkara video porno mirip Duryudana-Banuwati-Dewi Dollywati. ''Nangkanya yang makan Prabu Duryudana, kenapa saya dapat getahnya,'' kata si Al kepada para ponokawan.

Semar yang sudah moksa bersama kepergian Gus Dur sampai akhirnya pulang kembali ke mayapada. Di kahyangan, Batara Ismaya yang selalu manjing dalam raga Semar menyuruh sang Badranaya itu kembali hidup di tengah-tengah alam manusia.

''Sabar, Nak Alva,'' ujar Semar. ''Para manusia tidak salah kalau bilang kamu itu biang gara-gara video syur Cut Maya dan Luna Tari. Lha kalau tidak menyalahkan kamu, mereka mau menuding siapa lagi? Mau melempar kesalahan ke Gayus? Kasihan Mas Gayus itu. Belum turut disalahkan dalam soal video indehoi saja, dia sudah susah hidupnya. Susah sekali kok dia nginget-ngiget duit di tabungannya 74 milyar itu dari sopo wae.''

Semar melanjutkan, ''Mau menyalahkan polisi dalam kasus video porno ini? Kasihan lho polisi-polisi itu. Jangan kamu cuma lihat penggede-penggedenya. Itu cuma segelintir. Ribuan yang lain, yang pangkatnya rendah, hidupnya sudah susah. Apalagi prajurit bawahan di TNI. Ndak bisa mereka turut disalahkan dalam kasus video porno ini. Tanpa dibegitukan saja prajurit TNI itu hidupnya sudah jauh lebih susah dibanding polisi rendahan.''

Ponokawan Gareng, Petruk, dan Bagong mengernyitkan dahi. Lama tidak njedul, muncul-muncul kok omongan Semar agak ngawur. Apalagi ketika Janggan Asmarasanta itu menyinggung Piala Dunia.

''Soal Century, soal Dana Aspirasi, soal video porno, kita harusnya bisa menyalahkan si Micho (maksud Semar adalah Martin Demichelis, bek Bayern Muenchen). Tapi biarlah pemain belakang Timnas Argentina ini ndak usah kita hukum. Dia sudah cukup dihukum oleh alam semesta. Bolanya dicolong oleh Lee Chung-yong dari Korea Selatan. Si Micho khilaf, bola yang dijambret dan ditendang Lee ndak kejangkau kiper Sergio Romero. Gol!!!''

***

Orang yang paling keras menentang pengkambing-hitaman listrik adalah Sagopa, orang miskin dari pedesaan Widorokandang. Di desa melarat itu ia dipasrahi mengasuh masa kanak-kanak tiga bersaudara: Baladewa, Kresna, dan Subadra. Listrik di rumahnya cuma 450 watt.

''Omong-omong soal video porno, saya tidak mau ikut-ikutan menyalahkan listrik. Karena listrik baik hati. Buktinya, bos PLN Dahlan Iskan punya usul bila rumah dengan daya 450 watt digratiskan,'' ujar Sagopa.

''Nah, gitu dong,'' puji Thomas Edison. ''Jangan salahkan listrik. Kita salahkan saja pelaku adegan video porno.''

''Wah, saya tidak setuju,'' balas Sagopa. ''Pasangan orang-orang tua seperti kami ini sudah tidak bisa kumpul suami-istri. Kami baru bisa berbuat itu kalau pakai pemanasan nonton dulu video syur. Kami justru mengucapkan terima kasih kepada pelaku, pengambil gambar, dan pengedarnya. Matur nuwun. Sudah berapa juta pasangan lansia yang telah mereka bantu untuk kembali bergairah.''

Semar tersinggung. Kakek-kakek gaek ini mematikan video porno di pesawat televisinya, pindah ke tayangan langsung mirip Piala Dunia. (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

komentar (0) / Read More

Minggu, 13 Juni 2010 / Label: ,

Wayang Durongpo: Waspadai Angka Keramat 32


[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Waspadai Angka Keramat 32
INI sangat urgent. Mendesak. Sampai-sampai ponokawan Togog dan Mbilung kedungsang-dungsang datang ke Amerta. Biasanya Togog-Mbilung berdinas menemani dan kasih nasihat tokoh-tokoh dari dunia hitam. Sekarang mereka malah berkunjung ke Amerta, tempat para Pandawa. Lha wong Raden Arjuna, penengah Pandawa, sampai sekarang sudah hampir 32 hari 32 malam tidak mau bicara. Bagaimana tidak dianggap urgent?

Gareng menduga, Risang Dananjaya itu sudah hampir 32 siang-ratri ndak berkenan ngomong lantaran malu kepada laki-laki serupa Ariel. Ndak gengsi gimana, wong Dananjaya ya Arjuna sudah kondang dijuluki lelananging jagad, lelakinya dunia. Ternyata di atas langit masih ada langit, di balik Gayus masih ada ber-Gayus-Gayus. Di muka bumi jagad keblat papat ini ternyata masih ada pejantan yang lebih jos ketimbang dirinya.

Adik Gareng, Petruk, meredakan suasana. Dia wadul ke Togog. Menurut Petruk, bisa jadi Ndoro Kombang Ali-ali itu puasa tanpa sabda sampai nyaris full 32 hari 32 malam bukan karena kehilangan muka pada lelaki bermuka Ariel. Ndoro Kombang Ali-ali jauh lebih unggul.

Ingat Dewi Larasati? Putri Kresna yang keahlian memanahnya jauh lebih unggul ketimbang Srikandi itu saja sudah tersensus sebagai istri Arjuna yang ke-41. Padahal abis sama Ning Laras, Cak Kombang Ali-ali ya alias Margono itu masih kawin lagi, kawin lagi. Ah, angka 32 nggak ada apa-apanya kalau dibanding jumlah istri Arjuna...

''Abdi te' nyaho' naon eta' angka 32 mah?'' Mbilung nyahut dalam bahasa Sunda. Maksudnya, dia ndak mudeng kok dari tadi ribut angka 32 itu kenapa. ''Aku malah pertama dengar angka 32 itu dari Mas Pramono Anung. Kan pekan lalu di DPR ada sidang Panitia Pengawas Century. Anggota DPR protes kok laporan Pak KPK, Pak Jaksa, Pak Polisi, ndak beres-beres padahal sudah datang ke DPR dua kali. Niat apa nggak sih mereka mengusut kasus Century sampai tuntas tas tas tas...? Nah, Mas Pram yang mimpin sidang bilang, ndak papa toh baru 2 kali, yang penting tidak sampai 32 kali...''

''Bagong?'' Togog sebagai kakak Semar, mewakili Semar meminta pendapat si bungsu ponokawan Pandawa.

''Wah, Pakde Togog, Ariel itu siapa saya ndak tahu. Biasanya kalau dipanggil Ariel itu nama aslinya Syahril. Padahal saya ndak tahu Syahril Djohan, SD, sekarang di mana. Dan apakah masih sungguh-sungguh diperiksa dalam perkara makelar kasus. Yang masih dikuyo-kuyo kan SD yang lain, Susno Duadji. Terus soal Century saya juga sudah lupa, apa itu. Kesuwen. Kelamaan. Jadi saya no comment saja, Pakde.''

''Kalau soal angka 32, Gong?''

''Nah, kalau soal angka itu saya inget persis, Pakde. Itulah jumlah tahun ketika Pak Harto berkuasa. Total jenderal keseluruhannya 32 warsa. Ini kita hitung sejak 1966 sampai 1998.''

***

Atas nama Semar, dari berbagai masukan, Togog menyimpulkan pandangan baru. Raden Mintaraga alias Arjuna, menurut Togog, tidak prihatin lantaran merasa kalah pamor pada Ariel. Sang Palguna itu berpuasa bicara selama hampir 32 hari 32 malam lantaran ingin menghayati betapa kuat dan berwibawanya pemerintahan Pak Harto selama 32 tahun.

Seburuk-buruknya zaman Pak Harto, mana mungkin hakim ndak patheken pada pertimbangan presiden yang disokong aspirasi masyarakat. Ingat kan? Waktu itu Pak Presiden minta agar Bibit-Chandra dibebaskan dari kasus dugaan pemerasan terhadap Anggodo. Rakyat mendukung. Dukungan diperkuat oleh Tim 32 dibagi 4 yaitu Tim 8. Maka pemimpin KPK itu bisa kembali aktif jadi komandan kesatuan tempur pada korupsi.

Satu-satunya kantor yang digadang-gadang rakyat bisa mengusut kasus Century kan KPK. Orang-orang sudah ndak percaya kepada kejaksaan dan kepolisian. Eh, sekarang pengadilan memenangkan Anggodo. Artinya Bibit-Chandra akan diseret kembali ke pengadilan. Kantor KPK akan kembali kosong. Musnah sudah harapan masyarakat agar kasus Century diusut secara tuntas tas tas tas....

Tunggu dulu...Limbuk dan Cangik datang tergopoh-gopoh. Pembacaan kesimpulan oleh Togog terhenti. Ponokawan Limbuk yang disertai emaknya itu menangis lantaran gagal berfoto dengan Presiden Obama di Indonesia. Dia cuma punya potret bareng Obama di Amrik.

Napas Limbuk masih tersengal-sengal karena tangis, dan kembang-kempis karena berlarian jauh dari kantornya di Astina.

''Kebangeten Kang Obama itu,'' kata Limbuk. ''Sudah dua kali dia mblenjani janji akan datang menengok saya. Padahal kurang apa saya menjaga perasaan Obama. Saya tahu dia dan para leluhurnya sangat tergantung fulus Yahudi. Makanya pas Israel menyerang kapal bantuan kemanusiaan ke Palestina, pas pemimpin negara-negara lain mengutuk Israel, saya nahaaaaan supaya tidak mengutuk Israel.''

Jeda tangisan. Setelah itu Limbuk berlanjut, ''Saya tidak ngutuk Israel karena saya takut nyakiti perasaan Obama. Harga diri saya sudah saya gadaikan demi Obama. Eh, masih juga Obama batal copy darat dengan saya. Dua kali gagal lagi deh cita-cita saya untuk memamerkan foto saya meluk Obama di Indonesia kepada Pak SBY...hiks..hiks...hiks...''

''Tenang, Mbuk,'' hibur Bagong. ''Baru batal 2 kali. Belum 32 kali...''

***

Ternyata berita acara Togog harus diperbaiki. Kedatangan Limbuk meski semula cuma mau curhat atas batalnya Obama ke Indonesia sebanyak 32 dibagi 16 kali alias 2 kali, ternyata juga membawa info penting dari juragannya di Astina, Dewi Banuwati. Kekasih gelap Arjuna itu bilang, sesungguhnya Arjuna menyesal. Kenapa waktu zaman mereka masih hot-hot-nya pacaran belum musim kamera video. Akibatnya Arjuna nggak bisa pamer bukti.

Jadi bukan soal angka ''32'' itu yang biangkerok masalah buat Arjuna. Wong waktu Julio Iglesias didesas-desuskan pernah tidur dengan 3.000 perempuan, Arjuna juga menter kok. Tenang-tenang saja. Karena penyanyi dari Amerika Latin itu tak sanggup menunjukkan bukti rekaman video.

Anehnya, Cangik, sama-sama dari Astina dan dari sumber yang satu, Dewi Banuwati, Permaisuri Raja Duryudana, punya info penting yang berbeda. Konon menurut Banuwati, kekasih gelapnya diam saja prihatin selama 32 hari 32 malam karena video porno dipakai untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Sekarang berita-berita tentang rentetan Gayus dan mafia perpajakan ketutup soal video porno.

Risang Dananjaya, menurut Banuwati, adalah tokoh yang kepekaan sosialnya tinggi sekali. Dananjaya prihatin, berita-berita penyergapan teroris sudah tak mampu lagi mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu ketidakadilan yang lain termasuk soal Century. Maka dialihkanlah kepedulian masyarakat kepada pornografi. Nanti kalau video porno sudah tidak mempan lagi mengalihkan perhatian masyarakat pada isu-isu sosial, kita akan memerlukan pengalihan apa lagi?

Itulah yang membuat Dananjaya prihatin.

***

Keprihatinan orang biasa mungkin tak menimbulkan apa-apa. Lain halnya kalau yang nandang sungkawa tokoh spiritual sekelas Arjuna. Kahyangan Suralaya geger. Batara Guru penguasa kahyangan tersebut segera memerintahkan Batara Indra turun ke Mayapada, menemui Arjuna.

Dulu waktu nyambangi Arjuna sebagai Begawan Ciptaning di gua Mintaraga, Batara Indra menyamar pandita tua, Resi Padya. Sekarang Indra menyamar sebagai murid sekolah dasar yang sedang kesengsem video porno di telepon genggamnya.

Dulu Resi Padya menguji Arjuna dengan angka-angka. Arjuna disuruh menebak jumlah butir beras yang digenggam Resi Padya dan apa makna jumlah tersebut. Sekarang, bocah sekolah dasar samaran Batara Indra pun menggladi Arjuna tentang apa itu angka 32. Ah, Arjuna menjawabnya dengan tangkas.

''Angka 32 itu keramat, wingit, karena diotak-atik dengan cara apa pun tetap punya makna. Lihatlah 3 tambah 2 itu lima. Panca wiwijangan. Indra kita berjumlah lima. Itu yang wajib kita pertimbangkan. Lalu 3 kali 2 itu enam. Sad wiwijangan. Itu yang namanya krenteging ati, firasat. Itulah tambahan pertimbangan buat kita. Dan tahukah kamu, Le, bocah sekolah dasar, 32 dibagi 8 sama dengan 4...ada 8 ada 4...8,4 triliun...itulah yang diusulkan jadi dana aspirasi anggota DPR...''

''Hahaha...Jangan guyon, Oom Arjuna,'' kata si murid sekolah dasar, lalu matanya kembali ke video porno di HP-nya.

''Aku serius. Kembali ke 32. Sadarkah kamu, 3 pangkat 2 itu 9. Itulah jumlah lubang pada setiap insan, babahan hawa sanga, yang harus kita kendalikan saat meditasi. Panca indra dan firasat harus kita pertimbangkan tapi bukan segala-galanya. Keheningan kalbu saat kita menguasai babahan hawa sanga justru harus menjadi komandan untuk mengarahkan panca indra dan firasat dalam menanggapi apa pun termasuk soal video porno. Maka, hei bocah, lewat puasaku ini aku minta bantuanmu untuk menggugah kesadaran masyarakat agar jembar wawasannya dalam menanggapi video porno...''

''Ah, Oom Arjuna, aku cuma bocah SD, apa dayaku?''

''Jangan mungkir. Kembali ke 32. Angka 3 dikurangi 2 jadi 1. Itulah satu-satunya wujud yang kini ada di depanku: Batara Indra.''

Bocah SD ber-HP video porno itu badar jadi aslinya, Batara Indra, dan merangkul Arjuna. (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

komentar (0) / Read More

Minggu, 06 Juni 2010 / Label: ,

Wayang Durongpo: Susu Mengalir dari Payudara Bima


[ Minggu, 06 Juni 2010 ]
Susu Mengalir dari Payudara Bima
HARI keramat 1 Juni. Fajar belum menyingsing. Limbuk wis gak sabar. Ia gedor-gedor pintu salon. Kontan yang punya salon geragapan. Matanya diucek-ucek. ''Hah? Di mana lagi ada kebakaran tabung gas...di mana... di mana?'' tanyanya berkali-kali. Yang ditanya, anak semata wayang Cangik, ndak semaur malah langsung dia seret si tukang salon ke dalam. Di depan cermin Limbuk minta segera didandani pakai konde dan kebaya.

Waduh. Deloken nduk cermin. Sudah subur dan semok kan badan Limbuk? Tapi ponokawan gembrot ini masih minta dikasih korset. Mulane dadanya yang sudah semlohay tambah kelihatan mandul-mandul. Paniklah si emak, Cangik, yang tubuhnya kerempeng dan dadanya rata alias peres. ''Lha dodoku ndak ada apa-apanya ini yok opo, Nduk, Limbuk,'' tanyanya gelisah. Limbuk kasih kode ke tukang salon agar dada emaknya biar munjung disumpel helm saja, yang penting SNI (Standar Nasional Indonesia).

Usai dari salon matahari sudah sepenggalah. Sudah sampailah Limbuk dan Cangik di suatu lapangan perbatasan negeri Astina dan Amarta. Cangik dadanya munjung, sudah ndak peres lagi. Lebih-lebih Limbuk. Truk saja pasti mendal-mendal kalau nabrak dada Limbuk.

Panitia keramaian sudah menyambut mereka di gapura. Limbuk sambil memunjungkan dadanya sendiri bertanya apakah pakaiannya sudah cocok. ''Tanggal 1 Juni ini kan ditetapkan sebagai Hari Susu Nusantara,'' kata Limbuk sambil sekali lagi membusungkan dadanya.

''Lho, bukankah 1 Juni ini hari lahirnya Pancasila?'' Panitia membatin sambil plonga-plongo. Setahu mereka, masyarakat sekarang berkumpul untuk memperingati lahirnya galian Bung Karno. Mereka akan menyaksikan lomba pidato tentang Pancasila. Mereka juga berdebar-debar menunggu hasil kejuaraan. Bagaimana ndak penasaran, konon juara 1 lomba pidato tentang dasar negara itu akan dijadikan ketua KPK, ngganti Pak Antasari. Juara duanya jadi calon tunggal gubernur Bank Indonesia, ngganti Pak Boediono.

***

Di lapangan perbatasan Astina-Amarta itu ternyata bukan cuma bergerombol mereka yang ingin merayakan Hari Susu Nusantara dan hari lahirnya Pancasila. Panitia tambah panik. Ternyata ada golongan lain lagi, yaitu kerumunan anak-anak muda yang ingin berangkat ke Jalur Gaza. Kawula muda itu menyangka bahwa kumpul-kumpul itu diadakan untuk pembekalan sebelum mereka berangkat membantu rakyat Palestina memerangi Israel.

Hampir seluruh panitia menepuk keningnya sendiri. Belum lagi, di pintu masuk, masih sering terjadi pertengkaran.

Ponokawan Limbuk dan Cangik yang sudah berdandan cantik dan memperindah bentuk payudaranya tersinggung pada ponokawan Gareng, Petruk, dan Bagong yang datang membawa susu binatang. Limbuk dan Cangik ndak terima susunya disamakan dengan susu binatang. Gareng membawa susu kambing sekambing-kambingnya. Petruk nyangking susu sapi sesapi-sapinya. Bagong nyunggi susu kuda liar sekuda-kuda liarnya.

''Aku sama emakku sudah ke salon mruput, pakai korset sampai napasku seseg. Emakku dadanya sudah ndak peres lagi, terus enak saja kamu samakan nilai kami dengan susu kambing!!!?'' Limbuk marah-marah.

Gareng berkilah, justru susu-susu binatang itulah yang lebih tepat dibawa ke lapangan. ''Ingat, Hari Susu Nusantara itu dicanangkan oleh Kementerian Pertanian yang mengurus peternakan. Bukan Menteri Pemberdayaan Perempuan...Bukan...,'' kata Gareng.

Petruk kasih bumbu, ''Hari Susu Nusantara itu maksudnya ya memang susu binatang. Karena kita ini masih kurang minum susu. Baru 9 liter per orang per tahun. Malaysia saja per tahun sudah 25,4 liter. Singgapor malah 32 liter...Lha Vietnam saja sudah 10,7 liter...''

Bagong tidak sempat tukaran dengan Limbuk-Cangik. Ia malah lagi eker-ekeran dengan petugas gerbang. Mereka ndak kasih izin kuda liar masuk ke duyunan orang di lapangan. Bagong ngotot. ''Matamu lihat. Ini bukan kebo. Ini kuda liar. Lihat. Yang nggak boleh dibawa ke keramaian itu cuma kerbau...karena ada pemimpin yang tersinggung...Pemimpin yang tersinggung sama jaran kan belum ada?''

***

Kepanikan panitia berlipat-lipat ketika acara dangdut dan uji nyali sudah selesai dan menginjak ke acara lomba pidato tentang Pancasila. Maklum lomba ini hadiahnya besar. Kabarnya sampai Rp 15 miliar. Berarti sama dengan Dana Aspirasi anggota DPR.

Kepanikan panitia begini: pendaftarnya begitu banyak, termasuk mantan-mantan calon anggota DPR yang nggak kepilih padahal sudah tombok banyak duit. Hadiah Rp 15 M lumayan untuk bayar utang-utang keperluan kampanye dulu. Tapi mereka cuma siap membawakan pidato tentang Pancasila. Mereka ndak siap ngomong soal susu dan Jalur Gaza, padahal sebagian penonton ingin mendengarkan pidato perkara itu.

Tak heran setiap peserta disoraki. Ada yang malah dilempar-lempar botol minuman. ''Kami datang untuk Hari Susu Nusantara, bukan untuk mendengarkan sila-sila,'' kata sebagian penonton yang dadanya sudah nggak ada yang peres lagi, mungkin karena pakai korset dan ganjal. Sebaliknya, ketika peserta lain mengubah pidatonya menjadi melulu soal susu, massa lainnya ganti protes.

''Edan. Jauh-jauh kami datang untuk mendengarkan Pancasila...Kalau soal susu, mending kita dengarkan pidato Julia Perez, eh, Julia Munjung...Jauh-jauh kami datang, kami ingin tahu, kenapa tabung gas 3 kg bikin perkara terus tapi pemerintah kok diem saja, nggak bertanggung jawab. Di mana tanggung jawab Pertamina dan kontraktor-kontrakror yang bikin tabung, yang ditangkapi kok malah anggota masyarakat...Malah masyarakat yang dibilang lalai menggunakan tabung itu. Ini kan bertentangan dengan keadilan sosial dalam Pancasila. Dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Nah, kami ingin mendengar pidato kayak gitu...''

Belum lagi protes dari fans Palestina. Tapi panitia cukup senang ketika ada satu peserta yang cukup kreatif. Dia gabungkan-gabungkan dalam pidatonya perkara penyerangan Israel ke kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara, Hari Susu Nusantara, dan Pancasila.

Tapi masih juga ada rombongan lain yang protes. ''Kenapa soal kasih sayang ayah tidak disebut-sebut dalam pidato. Kito datang dari Pekanbaru. Kota wong kito menetapkan 1 Juni sebagai Hari Ayah. Jadi tak cuma kaum ibu saja yang punya Hari Ibu, 22 Desember...Itulah alasan kito tiba kemari...''

Ah, tak ada satu peserta pun yang memuaskan seluruh hadirin. Akhirnya panitia meminta Petruk untuk ikut menjadi peserta lomba pidato dan menggabungkan seluruh tema termasuk tema Hari Ayah. Ini karena Petruk dikenal sebagai orang yang paling seenaknya dan tanpa beban kalau ngomong.

Berikut ini cuplikan sambutan Petruk dengan nomor peserta 17-8-45.

''Sedulur-sedulur. Ndak cuma tabung gas 3 kg yang ngancam kita. Pekan ini orang-orang Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, juga protes ke pemerintah karena ada bau gas gara-gara eksplorasi energi di kawasan itu. Coba simak, ada kota di Nusantara yang namanya pakai susu. Ini kan bukti, kita memang bangsa yang suka susu.

Tapi kenapa Indonesia rendah konsumsi susunya? Karena ibu-ibu malu menyusui anaknya. Kenapa malu, karena kaum laki-laki suka mengintip atau mencuri-curi pandang. Persis ketika anak Kresna, Raden Samba alias Wisnubrata mengintip payudara Dewi Wilutama.

Ingat kan ceritanya?

Raden Samba sangat mencintai kakak iparnya, Dewi Hagnyanawati. Saking kelimpungan-nya, Wisnubrata sampai membangun terowongan yang tembus ke peraduan istri Prabu Boma Narakasura itu. Di terowongan yang gelap, Samba dibantu penerangan dari belakang. Sumber cahayanya adalah payudara Dewi Wilutama. Pesan sang Dewi, Wisnubrata jangan pernah menengok ke belakang. Eh, saking penasarannya, ksatria dari Paranggaruda itu noleh juga. Marahlah Dewi Wilutama. Sejak itu perempuan Nusantara malu mengeluarkan payudara untuk kasih ASI (air susu ibu) anaknya.

Yang belum malu adalah kambing, sapi, dan kuda liar. Ndak tahu kalau nanti mereka ikut-ikutan malu karena sesungguhnya kuda adalah jelmaan dari Dewi Wilutama.

Nah, padahal kalau konsumsi susu kita meningkat, kita makin sehat. Kalau kita sehat, makin banyak lagi yang mampu berangkat membantu rakyat Palestina. Kalau kapal sampek ndak muat saking banyaknya yang mau ke Jalur Gaza, para pemuda itu bisa dialihkan dikirim ke berbagai tempat di Indonesia sendiri untuk jadi relawan memerangi koruptor dan kemiskinan di tanah airnya sendiri, karena kemelaratan jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila.''

''Soal Hari Ayah-nya mana?'' penonton dari Pekanbaru protes. Petruk langsung kasih tanggapan.

''Ayah harus penuh kasih dan sayang pada anak. Dalam lakon Bima Kopek, Bima yang gagah perkasa itu keluar kopek alias payudaranya dan menyusui keponakannya sendiri, Abimanyu alias Jaka Pengalasan. Sampai akhirnya Wahyu Widayat yang spiritnya sama dengan Pancasila itu menurun kepada ksatria dari Palangkawati itu. Wahyu Widayat sebelumnya dimiliki oleh Bima.''

Wuuaaah....Gemuruh tepuk tangan rata di seluruh lapangan menyambut pidato Petruk. Semua golongan terpuaskan.

Petruk dinyatakan sebagai pemenang tunggal. Tak ada juara dua. Maka Petruk disuruh memilih, mau dapat mentahnya saja yaitu Rp 15 M seperti Dana Aspirasi Anggota DPR, atau jabatan gubernur Bank Indonesia merangkap ketua KPK.

Petruk mesam-mesem. Baru akan memilih, ia terbangun dari tidurnya. (*)

Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com

komentar (0) / Read More